Salju di Bulan September
Bahagia, singkatnya mungkin itu yang mudah tergambarkan. Noda Dosa memang begitu besarnya, namun daripada harus kehilangan suatu kesempatan untuk meraih salju dibulan September nanti. Dingin redup malam, bersamaan dengan hembusan angin muson timur menjadi pertanda cerita baru kita. Dikala aku memang lebih dan sangat butuh yang dekat, yang bisa melekat layaknya perangko indah kolektor-kolektor diluaran sana. Lirih suara padi di sawah menandakan pelukan hangat pertama kalinya kembali kurasakan. Asmara Monyet masa Sekolah Menengah benar-benar terulang. Bagaimana tidak ? Ranum senyummu dan Harumnya wewangianmu selalu menjadi kehadiran yang tak terelakkan untuk menjadi tanda kehadiranmu. Pancaran rona bintang pada bola matamu memberikan arti, bahwa ya memang benar. Kita bisa mengulang semuanya, memulai lagi dari awal. Kehilanganmu hanya akan menjadi luka batin yang tak igin kutemui lagi. Sayup-sayup salju-salju tersebut mulai turun, sinar terik senja pada rona pipimu menjadi pertanda hangatnya kehadiranmu akan penerimaan diriku yang baru. Oh Bahagianya aku menemukan Ayodya yang memang harusnya ku-rajai. Bagaimana tidak ?, penerimaan tanpa pertimbangan lanjut antara aku dan dirimu sangat nyata adanya, dan betapa hangatnya salju saat ini menjadi cuitan indah yang akan kita urai lagi.

Comments
Post a Comment